Yay! Akhirnya aku travelling lagi! :')
Setelah akhir-akhir ini hanya mini-travelling dengan diri sendiri dan hanya keliling kota, akhirnya aku travelling dalam artian yang ada di kamus oxford. Yuuhuuu! Brace yourself, beaches! B)
Jadi, dengan hanya 4 matkul dan dosen yang ada hobi membatalkan kuliah maka dengan ini tercetuslah ide untuk travelling ke pantai. Sebenarnya sih ada satu temen, namanya Fedina, bisa dipanggil Bontot maupun Mped atau Udin, yang gak tau kenapa ngidam pergi ke pantai. Awalnya sih kami berencana pergi ke pulau Pari, di kawasan pulau Seribu. Tapi karena satu dan lain hal (mainly karena kapalnya berangkat jam 6 pagi yang berarti kami harus sudah ada di sana at least jam 5) akhirnya rencana ini batal.
Tapi si Mped ini tidak putus-putusnya merengek minta ke pantai. Akhirnya ketua kelas kami, Iyai, memberi ide untuk pergi mengunjungi rumah kakek-nenek dan tempatnya lahir, Pelabuhan Ratu atau Palabuhan Ratu atau Palabuhanratu. Dari situ, katanya, dia akan mencari kendaraan untuk disewa pergi ke pantai Sawarna, Bayah, Banten. Katanya hanya akan memakan waktu 2-3 jam perjalanan. Dengan semangat tinggi si Mped langsung mengiyakan dan merengek meminta aku dan beberapa teman lain untuk ikut. Persuasif sekali anak ini, sampai aku akhirnya terlena #tsaah.
Akhirnya Jumat pagi kami berenam berangkat. Ada aku, Iyai, Mped, papah Adlan, mamah Iffa, dan suami Mped a.k.a adek iparku, Miftah. Kami berangkat dari kampus sekitar jam 08.30 menuju Lebak Bulus. Dari Lebak Bulus, naik bus (yaiyalah) ke terminal Baranang Siang, Bogor. Sampai di Bogor kami menunggu waktu solat Jumat sambil nongkrong di depan masjid agung Bogor, mencicipi jajanan.
Setelah akhir-akhir ini hanya mini-travelling dengan diri sendiri dan hanya keliling kota, akhirnya aku travelling dalam artian yang ada di kamus oxford. Yuuhuuu! Brace yourself, beaches! B)
Jadi, dengan hanya 4 matkul dan dosen yang ada hobi membatalkan kuliah maka dengan ini tercetuslah ide untuk travelling ke pantai. Sebenarnya sih ada satu temen, namanya Fedina, bisa dipanggil Bontot maupun Mped atau Udin, yang gak tau kenapa ngidam pergi ke pantai. Awalnya sih kami berencana pergi ke pulau Pari, di kawasan pulau Seribu. Tapi karena satu dan lain hal (mainly karena kapalnya berangkat jam 6 pagi yang berarti kami harus sudah ada di sana at least jam 5) akhirnya rencana ini batal.
Tapi si Mped ini tidak putus-putusnya merengek minta ke pantai. Akhirnya ketua kelas kami, Iyai, memberi ide untuk pergi mengunjungi rumah kakek-nenek dan tempatnya lahir, Pelabuhan Ratu atau Palabuhan Ratu atau Palabuhanratu. Dari situ, katanya, dia akan mencari kendaraan untuk disewa pergi ke pantai Sawarna, Bayah, Banten. Katanya hanya akan memakan waktu 2-3 jam perjalanan. Dengan semangat tinggi si Mped langsung mengiyakan dan merengek meminta aku dan beberapa teman lain untuk ikut. Persuasif sekali anak ini, sampai aku akhirnya terlena #tsaah.
Akhirnya Jumat pagi kami berenam berangkat. Ada aku, Iyai, Mped, papah Adlan, mamah Iffa, dan suami Mped a.k.a adek iparku, Miftah. Kami berangkat dari kampus sekitar jam 08.30 menuju Lebak Bulus. Dari Lebak Bulus, naik bus (yaiyalah) ke terminal Baranang Siang, Bogor. Sampai di Bogor kami menunggu waktu solat Jumat sambil nongkrong di depan masjid agung Bogor, mencicipi jajanan.
Setelah semuanya selesai solat, kami melanjutkan perjalanan kami.. mencicipi jajanan Bogor :D Papah Adlan, yang dari Bandung, memberi ide untuk membeli seblak. Si Mped, anak Cimahi yang mengaku Bandung mengiyakan ajakan tadi. Tinggallah aku yang sedih karena dari tadi mereka beli makanan yang aku tidak mungkin makan, such as es duren dan seblak ini :(
Setelah selesai makan seblak hot dan kepedesan, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu naik bus AC.
Dan pemirsa, alangkah bohongnya google map yang berkata bahwa dari Bogor ke Sukabumi ada jalan tol, karena kami tidak lewat tol sodara-sodara! Bus yang kami naiki lewat jalan yang naik-turun mendaki gunung lewati lembah yang niscaya jika dipadu dengan nyanyian dangdut koplo pantura yang diputar di bus selama perjalanan akan membuat kalian mabok.
Benar saja, turun di perempatan di dekat alun-alun kota Pelabuhan Ratu, kami kompak berkata bahwa bukan jalan terjal yang membuat kami mabok, melainkan lagu yang diputar.
Kami sampai di rumah eyangnya Iyai sekitar 17.30 dan disambut dengan sangat meriah, like, SANGAT meriah. Keluarganya berkumpul dan makanan yang disajikan subhanallah banyaknya, membuat kami anak rantau terharu.
Sambil makan, kami berdiskusi tentang rencana selanjutnya. Mped, yang kakinya gatal ingin ke pantai dan liat sunset, meminta agar kami saat itu juga pergi ke pantai. Akhirnya kami pun pergi ke dermaga tempat pelelangan ikan (karena sampai di sana udah maghrib). Still, the sunset was cool!
Dan pemirsa, alangkah bohongnya google map yang berkata bahwa dari Bogor ke Sukabumi ada jalan tol, karena kami tidak lewat tol sodara-sodara! Bus yang kami naiki lewat jalan yang naik-turun mendaki gunung lewati lembah yang niscaya jika dipadu dengan nyanyian dangdut koplo pantura yang diputar di bus selama perjalanan akan membuat kalian mabok.
Benar saja, turun di perempatan di dekat alun-alun kota Pelabuhan Ratu, kami kompak berkata bahwa bukan jalan terjal yang membuat kami mabok, melainkan lagu yang diputar.
Kami sampai di rumah eyangnya Iyai sekitar 17.30 dan disambut dengan sangat meriah, like, SANGAT meriah. Keluarganya berkumpul dan makanan yang disajikan subhanallah banyaknya, membuat kami anak rantau terharu.
Sambil makan, kami berdiskusi tentang rencana selanjutnya. Mped, yang kakinya gatal ingin ke pantai dan liat sunset, meminta agar kami saat itu juga pergi ke pantai. Akhirnya kami pun pergi ke dermaga tempat pelelangan ikan (karena sampai di sana udah maghrib). Still, the sunset was cool!
Dan berhubung Mped kakinya gatal menginjak pasir pantai, kami akhirnya ke pantai terdekat dari dermaga tadi.
Seusai melihat sunset dan membasahkan kaki, malamnya kami beranjak ke alun-alun kota yang hanya berjarak beberapa langkah. Di sana, kami nongkrong di CFC (yang sempat dikira KFC) dan menjadi anak gaul Pelabuhan Ratu sejenak. Oh ya, sepanjang hari itu kami sudah bertemu sekitar 5-6 orang gila. Kata Iyai, dulu Pelabuhan Ratu adalah tempat pembuangan orang gila dari Sukabumi. Tengah malam sering ada mobil yang berhenti dan mengeluarkan orang-orang, ya orang gila itu tadi.
Kami memutuskan bahwa besok pagi akan naik ke bukit untuk melihat Pelabuhan Ratu/Palabuhan Ratu dari atas bukit. Janjinya sih jam 5 mau pada bangun, sekalian sunrise, tapi reality? Jam 6 baru berangkat :D
Balik dari pantai, kami cepat-cepat mandi dan beberes untuk pergi ke tujuan gaul selanjutnya: pantai Sawarna! B))
Kami pergi ke Sawarna naik angkot yang sudah dicarter. Perjalanan menuju Sawarna sekitar 3 jam dan jalannya amat sangat tidak gaul. Dengan 250 ribu, kami berhasil mendapat angkot yang fisiknya masih bagus (ada boombox!), supirnya sudah berpengalaman, dan pastinya mau menunggu kita. Intinya, 250 ribu itu sudah lengkap uang bensin, uang makan, uang tunggu, dan uang antar ke mana-mana :D
Kami sampai di Sawarna pukul 12.00 teng teng. Setelah melalui jalan berliku dan mobil sempet mogok saat menanjak (dan seisi mobil langsung berdoa.. kecuali supir), kami memutuskan untuk kembali dari Sawara jam 3 sore, paling lambat jam 4 lah. Kenapa? Karena sepanjang jalan tidak ada tanpa penghuni dan tidak ada lampu! Hiii.
Begitu sampai, dengan berbekal cengdem dan sunblock SPF 50 milik Mped plus tiket masuk seharga 5000 rupiah ajah, kami pun nekat main air. Subhanallah sekali view-nya sodara-sodara! Gak nyesel deh kalau misalnya jadi item di sini! :D
Begitu sampai, dengan berbekal cengdem dan sunblock SPF 50 milik Mped plus tiket masuk seharga 5000 rupiah ajah, kami pun nekat main air. Subhanallah sekali view-nya sodara-sodara! Gak nyesel deh kalau misalnya jadi item di sini! :D
Kami ke pantai disaat matahari sedang pas ada di atas kita, disaat turis lain balik ke hotel dari pantai. Nah, sekarang sudah ada bayangan kan, seberapa hitam kita? Dan sodara-sodara, SPF 50 itu tidak membantu! *brb googling sunblock SPF 100*
| Mped (kanan) dan suaminya, Miftah |
| full team: Iyai (depan sendiri), papah Adlan (kiri), Miftah (kedua dari kanan), aku (paling kanan), mamah Iffa (berkerudung + kacamata item), Mped (ujung kiri) |
| adu makan kelapa muda sama mamah Iffa :D |
Saat berjalan menuju pantai tadi, kami menemukan ada petunjuk arah menuju spot sunset dan Tanjung Layar. Penasaran dengan Tanjung Layar (dan karena aku merengek minta ke tempat yang menjadi lokasi syuting FTV maupun adzan maghrib plus ingin me-re-enact video klip "Ada Cinta"-nya SM*SH), kami akhirnya pergi menuju Tanjung Layar tersebut. Jalannya kira-kira 500 meter. Lumayan lah, mini trekking :D
Sepanjang jalan menuju Tanjung Layar, kami disuguhi pemandangan indah dan adem B)
Akhirnya sampailah kita di Tanjung Layar! Woohooo!
This was it! Ini dia yang aku cari, ini dia yang ada di tipi! :')
Waktu kami sedang asyik-masyuk berfoto, tiba-tiba terdengar debur ombak yang menabrak karang. And it was AMAZING!
Woohooo!
Sebelumnya, saat kami mau mendekat ke karang, kami melewati ini
Ngeri-ngeri gimanaa gitu. Tapi, apapun yang terjadi, yang penting ke karang! :D
| foto pre-wed |
| galau |
Setelah puas berfoto di Tanjung Layar, beberapa dari kami berganti baju dan memutuskan untuk kembali ke Pelabuhan Ratu. Kenapa? Karena kami tidak mau menginap di Sawarna, yang rata-rata 120.000/orang dan karena kami tidak menginap maka kami harus pergi dari Sawarna sebelum gelap karena sepanjang jalan tidak ada penerangan.
Tapi agaknya kami ini adalah pemeluk agama yang taat, karena kami melewati jalan yang berbeda sesuai sunnah nabi -dan akhirnya foto-foto lagi :D
Lewat jalur pantai, bukan lewat jalur trekking tadi :D
Untuk menuju dan keluar pantai, kami harus melewati jembatan gantung ini. Sensasi goyangannya mantap!
Kami pun kembali ke Pelabuhan Ratu, tempat Iyai. Dalam perjalanan kami berharap agar suatu saat nanti dapat melihat sunset di Sawarna, karena kali ini kami melewatkannya. Namun kami optimis kami tetap akan mendapatkan sunset di daerah Pelabuhan Ratu. This is already summer anyway! Tidak ada awan yang akan menghalangi! B)
Dadaaah Sawarna! Seey you next time! :"
Jalan yang kami lalui dari Bayah, Banten - Jawa Barat adalah jalan perbukitan, namun view-nya tetap indah, karena kami bisa melihat samudera Hindia dari sana, dan abang supir pun berhenti, menawarkan kami untuk berfoto :D
Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Iyai meminta si abang supir agar mampir sebentar ke pantai Karanghawu, pantai yang terkenal dengan kisah mistisnya (foto terus ada yang "menemani").
Dan kami sampai di pantai Karanghawu tepat saat matahari mulai tenggelam B)
Entah ide dari mana, Iyai mengajak kami ke makam keramat yang ada di sana. Waktu Iyai mengajak dengan menunjuk bukit, aku kira dia mengajak kami ke pangkalan ojek menuju Mak Erot -___-
Sayangnya, mataharinya tertutup oleh bukit. Tapi gak papa, yang penting kami bisa melihat langit senja di pantai :') *walaupun pada takut sama makam keramat yang penuh dengan lukisan "tante" Nyi Roro Kidul*
Sekembalinya dari jelajah pantai (dan sekaligus jelajah provinsi, karena kami keliling Banten - Jakarta - Jawa Barat - Banten - Jawa Barat dan nanti akan kembali ke Jakarta lalu ke Banten lagi) kami istirahat sejenak untuk kemudian menjadi anak gaul Pelabuhan Ratu lagi. Malam itu malam minggu, sodara-sodara! :D
Saat jalan-jalan sebelumnya, kami menemukan sebuah warung yang menjual surabi durian. Namun karena saat itu tutup, kami pun tidak mampir -dan aku bersyukur karenanya.
Tapi ternyata sodara-sodara.. mereka memutuskan untuk mampir lagi! Ini hari kedua aku melihat orang-orang ini makan durian setelah sebelumnya membeli es durian di Bogor -___-
Ujung-ujungnya mereka tidak bisa menghabiskannya -.- kami akhirnya keukeuh lanjut nongkrong di alun-alun kota. Saat nongkrong itulah kami memutuskan untuk berwisata sejenak di Bogor, mumpung Mped punya sodara yang bisa jadi tour guide. Akhirnya diambillah keputusan untuk berangkat pagi-pagi dari Pelabuhan Ratu menuju Bogor. Kenapa pagi-pagi? Karena PAN mengadakan jalan sehat bersama Hatta Radjasa dan diperkiran puluhan ribu orang akan mengikutinya dan takutnya jalanan akan ditutup.
Keesokan paginya, sekitar jam 05.30, kami sudah siap berangkat. Berbekal sarapan gaul dan minum Top Coffee (yang mana aku sesali kemudian karena aku jadi tidak bisa tidur selama perjalanan Pelabuhan Ratu - Bogor), kami pun pergi menuju perempatan alun-alun kota dan naik bus yang sudah ngetem. Di dompet tinggal tersisa 30.000 buat ongkos. Alhamdulillah ini bus yang kami naiki adalah yang non AC, jadi hanya 25.000 dan gak ada tipinya, jadi dangdut pantura dipastikan tidak akan diputar :')
Kami sampai di Bogor sebelum jam 10. Saudara Mped sudah siap menanti di terminal Baranang Siang dan siap menjadi tour guide kami. Tujuan pertama: jalan Pangrango!
Bagi yang sudah membaca post terdahulu, pasti tahu kalau aku sudah pernah backpack wisata kuliner bersama teman kontrakan, mengelilingi jalan Pangrango dan Ceremai.
Nah, pilihan jatuh ke Kedai Kita, restoran yang kental dengan arsitektur jaman baheula alias jadul. Di sana kami memesan pizza bakar pepperoni. Harganya 30ribuan, sesuai rasanya yang maknyus!
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Kencana, lalu melewati Agri Park untuk kemudian membeli sesuatu yang segar: sop buah pak Ewok!
Walaupun porsinya lebih sedikit dibanding dengan sop buah langganan di dekat kontrakan, tapi rasanya emang seger banget dan harganya gak bikin kantong jebol, harganya rata-rata (untuk es buahnya) dibawah 10.000. Tempatnya juga cozy dan wifi yang ada cukup kencang, cocok buat mahasiswa kere seperti diri ini :")
Dasar manusia duren, orang-orang itu membeli sop buah yang kuahnya rasa durian. Tiga hari kami travelling, tiga hari pula aku tidak bebas dari bau durian -___-
Lepas dari sop buah pak Ewok, kami mampir ke Taman Koleksi yang berada di sebelah Botani Square. Di sana kami numpang menghirup oksigen langsung dari bawah pohon dan menghitung hutang-hutang yang terjadi selama perjalanan. Hutangku? Baru akan dibayar April nanti. Muka si debitur langsung asem :D
Beranjak dari TaKol kami singgah sebentar di Botani Square (disingkat BoQuare a.k.a boker). Dari sana kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bintaro dan kembali menjalani hidup #tsaah dengan naik bus.
That's all, folks! Itu saja cerita travelling kali ini. Bulan depan kami berencana untuk pergi mengunjugi pulau Pari. Semoga terlaksana deh, biar rajin nulis lagi :D
Thank you for visiting. See ya!















Tidak ada komentar:
Posting Komentar