Aku memulai dengan Bismillah, kau dengan atas nama Bapa.*
Satu kalimat dari buku yang kubuka secara paksa. Aku tidak yakin apakah ini yang disebut takdir. Dari ratusan buku, dari ratusan ribu halaman, entah kenapa kalimat ini yang muncul. Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan. Oh, mungkin benci. Mungkin.
Yang jelas kalimat ini membuatku teringat lagi dengan seseorang. Dan kalimat itu telah menggambarkan semuanya.
Kita mencoba menghindari hujan di akhir tahun dengan melindungi kepala kita memakai tas ransel milikmu, setengah berlari menuju minimarket yang cukup jauh dari tempat kita turun dari busway tadi. Dari sekian banyak pilihan tas ransel yang dipakai oleh teman yang lain, aku memilih tas ransel milikmu untuk menutupi kepalaku. Bisa jadi itu hanya alasan agar bisa dekat denganmu. Aku sendiri tidak tahu.
“Sok mesra sekali ya kita,” katamu sambil berjalan cepat bersamaku, beriringan. Aku hanya tertawa. Kamu benar, kita memang sok mesra, sok romantis. Padahal kita bukanlah pasangan. Tapi aku aku tidak peduli. Kamu juga sepertinya tidak. Kita tetap memakai tas ransel milikmu sebagai pelindung dari hujan deras ini. Tetap bertindak sok mesra, sok romantis.
Dingin tidak lagi begitu terasa setelah aku selesai mengganti bajuku yang basah dengan baju yang baru saja kubeli dari acara yang kita datangi barusan. Kamu juga akan ganti baju. Mungkin kaos biasa atau polo, seperti yang biasa kamu pakai.
Begitu melihatmu, ingin rasanya aku tersenyum lebar saat kamu ternyata memakai kemeja lengan panjang berwarna biru tua dan melipatnya hingga sikut. Kamu terlihat lebih baik, pikirku.
Sepanjang jalan mencari meja kosong untuk makan, aku tidak hentinya tersenyum, walau hanya dalam hati.
Aku tahu, Tuhan tidak mungkin tidak mengabulkan doa tanpa menggantinya dengan hal lain, yang tidak pernah diminta atau bahkan dibayangkan.
Dia tidak mengabulkan doaku untuk memberi hari yang cerah; Dia malah memberi hujan deras. Tapi dibalik hujan deras yang menghentikan keinginanku untuk memborong belanjaan, Dia memberiku sesuatu yang tidak kalah bagusnya.
Yaitu kamu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kita mempunyai banyak kesamaan; suka jalan-jalan, tidak begitu paham pelajaran… Kita begitu mirip, tapi kita juga jauh berbeda. Perbedaan inilah yang membuatku hanya bisa diam. Ingin aku memulai, tapi dengan cepat aku sadar.
Aku ingat nasehat dari dua teman yang memiliki nasib yang sama. Aku sangat mengingatnya, karena aku tidak ingin lupa.
*****
Aku tidak mengerti kenapa dua orang di depanku ini bisa jatuh cinta dengan orang yang berbeda keyakinan. Untuk teman yang satu ini, aku maklum. Wajar, dalam kasusnya. Tapi untuk yang satu lagi, aku tidak habis pikir.
Kemudian dia bercerita. Sudah menginjak tahun kelima, katanya. Keluarga juga sudah kenal. Awalnya hubungan itu memang sempat ditolak, namun lama kelamaan diterima juga, walaupun tidak begitu hangat. Lalu, selama ini ia pacaran jarak jauh. Tapi ia terlihat bahagia, tidak seperti yang satunya tadi. Tidak pernah ada tanda-tanda kekecewaan atau kemarahan.
Sampai kudengar dia sudah putus.
Jelas saja aku kaget. Sudah mengarungi long-distance relationship ini selama lima tahun, sudah mengalami penolakan dari banyak pihak, dan kini mereka putus.
Dia tidak secara gamblang menceritakan alasannya ataupun pemicunya. Dia hanya bilang kalau akhir-akhir ini dia berpikir mengenai masa depan. Dan saat itu dia sadar, tidak akan ada yang mau mengalah untuk mengubah perbedaan mereka. Itu tidak akan berujung, katanya. Dan dia tidak mau hidup seperti itu.
Dia sangat menyayanginya, aku dan teman-temanku tahu betul itu. Sudah lima tahun mereka menjadi pasangan, pasti akan susah melupakan semua kenangan yang ada.
Dia belum memberitahu keluarganya. Dia takut reaksi yang diberikan malah akan melukainya. Dia lalu bercerita bahwa selama ini ayahnyalah yang selalu menentangnya. Dan jika ia menceritakan hal ini, ia yakin ayahnya akan berkata bahwa selama ini beliau benar, dan dia bukan anak penurut karena tidak mau mendengar nasehat orangtua.
“Ya, intinya, kalo bisa jangan memulai lah. Daripada entar kayak gue,” katanya.
“Iya, kalo gue sama dia sih ya udah terlanjur gini ya udah,” kata si yang satu lagi.
Aku tahu, mereka benar. Sangat benar.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tidak mungkin memulai. Aku tidak bisa. Yang berada di depanku sebagai penghalang bukan lagi tentang aku atau kamu, tapi tentang sesuatu yang lebih besar.
Aku hanya bisa berharap Dia akan memberi seseorang yang lebih baik untukku, sama seperti permintaanku akan cuaca cerah yang Dia ganti dengan hujan deras yang kita lalui bersama.
Namun hingga hal itu terjadi, biarkan aku tetap menjadi temanmu; yang kini lebih sering berkomunikasi denganmu di jejaring sosial, yang akan selalu setuju bila diajak untuk menemanimu ke suatu tempat, berkeliling kota…
Biarkan aku menjadi temanmu yang diam-diam mengagumimu dari jauh.
Saat ini, itu sudah cukup.
-ditulis sambil mendengarkan Peri Cinta - Marcell Siahaan (duh!)-


salam kak,
BalasHapusbukunya sepertinya bagus ya?
ingin saya memilikinya
:-)_